Hadapi Gelombang Kedua COVID-19, Sistem Kesehatan di Jerman Mulai Kewalahan

Sepuluh dari 2 belas tempat tidur di unit perawatan intens (ICU) Rumah Sakit Kampus Münster, Jerman, sudah dihuni.

Perawat dibagian ICU Bärbel Breimann menjelaskan keadaan COVID-19 telah sama jeleknya seperti April lalu, saat gelombang pertama virus corona capai pucuknya. Begitu seperti mencuplik DW Indonesia, Kamis (12/11/2020).

“Kami bekerja telah tiba batasan kemampuan kami. Tak perlu menanti lama kembali saat sebelum semua metode (kesehatan) selekasnya roboh,” kata Breimann.

Perawat berumur 47 tahun itu adalah petugas kesehatan yang dilukiskan selaku “karyawan kunci” di awal wabah.

Breimann sudah bekerja dibagian ICU semenjak 1998, serta barusan rayakan 25 tahun bekerja di Rumah Sakit Kampus di Münster.

ICU di RS Jerman sudah lewat jeleknya keadaan COVID-19 gelombang pertama, tetapi gelombang ke-2 sekarang ini berlainan.

“Kami seluruh di bangsal telah capai batasan kami. Ini memunculkan beban emosional serta fisik. Serta sudah pasti, semuanya memunculkan pertanyaan: Apa seterusnya untuk Jerman?,” tanyanya.

Situasi di ICU Münster sebagai wakil keadaan dalam masyarakat Jerman keseluruhannya, yaitu makin tegang serta frustasi. Situasi pada musim dingin menambahkan kronis keadaan COVID-19 sekarang ini.

“Pada musim semi kami seluruh berpadu serta itu hasilkan elemen positif yang mengagumkan besar. Tetapi energi itu saat ini raib,” kata Breimann.

“Serta ada ketakutan jika kami tidak bisa menjaga standard sekarang ini. Seluruh staff ada di ujung sundul serta batasan keruntuhan ialah masalah ini hari,” sambungnya.

Dari sisi umur, sekarang semakin banyak pasien muda di ICU. Pasien di umur 30-an awalnya ini pun tidak punyai penyakit bawaan. Beberapa perawat di ICU Münster bisa jaga peraturan keras jika satu specialist cuman bisa menjaga optimal dua pasien.

Tapi, untuk beberapa hal spesifik hal tersebut mustahil. Misalkan, untuk mengganti pasien ke status telungkup, dibutuhkan tiga perawat. Banyak pasien membutuhkan perawatan pribadi. Metode kesehatan makin kerepotan saat makin bertambahnya staff yang perlu izin sebab sakit atau harus karantina.

Dari sisi umur, sekarang semakin banyak pasien muda di ICU. Pasien di umur 30-an awalnya ini pun tidak punyai penyakit bawaan. Beberapa perawat di ICU Münster bisa jaga peraturan keras jika satu specialist cuman bisa menjaga optimal dua pasien.

Tapi, untuk beberapa hal spesifik hal tersebut mustahil. Misalkan, untuk mengganti pasien ke status telungkup, dibutuhkan tiga perawat. Banyak pasien membutuhkan perawatan pribadi. Metode kesehatan makin kerepotan saat makin bertambahnya staff yang perlu izin sebab sakit atau harus karantina.

Thomas van den Hooven, direktur keperawatan di RS Kampus Münster menjelaskan relokasi perawat bakal menjadi penentu usaha dalam hentikan ketimpangan serta tangani kekurangan.

“Kami alami kenaikan berarti pada pasien COVID-19 sepanjang akhir minggu, jadi kami sedang dalam proses merelokasi staff perawat kami,” terang van den Hooven.

Kritis membuat orang jadi inovatif. Jadi tidak cuma 3.000 staff perawat saja yang didistribusikan ulangi oleh rumah sakit tiap hari, dan juga kasur RS-nya. kata van den Hooven. Maksudnya untuk mengurangi beban beberapa perawat.

Jerman kemungkinan dapat membuat tempat tidur perawatan intens yang berperan penuh, tapi Jerman kekurangan seputar 3.500 sampai 4.000 perawat ICU.

Faktanya ialah penghasilan yang relatif kecil untuk tingkat tanggung jawab yang tinggi, harus menyesuaikan dengan gantian kerja serta bersiap sedia di akhir minggu, sampai minimnya pernyataan dari warga.

Bahkan juga saat sebelum wabah, Menteri Kesehatan Spahn usaha semaksimal mungkin mengambil tenaga perawat di luar negeri.

Hasil survey DIVI terkini antara petugas perawatan intens memperlihatkan: 97% perawat berasa tidak bakal ada cukup staff untuk hadapi gelombang ke-2 , serta nyaris separuhnya kurang terpacu bekerja pada musim dingin dibanding pada musim semi. Sesaat, 93% takut jika keadaan kerja akan lebih buruk di bulan-bulan kedepan.

Raksasa farmasi AS Prizer bekerja bersama dengan Biontech Jerman meningkatkan vaksin corona. Vaksin yang ditingkatkan diklaim sudah efisien 90% serta sudah jalani tes medis.

error: Content is protected !!