Turki dan Rusia Ogah Beri Selamat ke Joe Biden, Ini Alasannya

Tidak seluruh pimpinan dunia telah memberi selamat ke Joe Biden habis menang pemilu Amerika Serikat. Pimpinan Rusia serta Turki pilih untuk menanti hasil cara hukum Donald Trump.

Joe Biden menang pemilu AS 2020 berdasar kalkulasi cepat medium. Beberapa negara sisi tidak ada yang resmikan hasil sah. Turki berbicara menghargai proses demokrasi di AS.

“Turki akan memberikan selamat ke juara selekasnya waktu hasil pemilu jadi sah selaku sisi penghormatan ke rakyat AS serta demokrasi,” tutur jubir Presiden Recep Tayyip Erdogan seperti disampaikan Al Arabiya, Selasa (10/11/2020).

Faksi Turki menyorot ada protes serta perselisihan yang berjalan, khususnya di wilayah yang Joe Biden menang tipis.

Tim Donald Trump protes ada manipulasi di Pennsylvania, Michigan, Georgia, serta Arizona. Hasil di Wisconsin disuruh supaya dihitung ulangi.

Presiden Rusia Vladimir Putin malas memberikan sepanjang ke Joe Biden sampai permasalahan hukum usai. Faksi Rusia berbicara pemilu 2020 lain dengan 2016 sebab permasalahan hukum yang berlangsung. Pada 2016, Putin memberi komentar supaya calon menyerah kalah.

Kami menimbang hal yang betul untuk menanti sampai hasil sah difinalisasi. Saya pengin mengingatimu jika Presiden Putin berulang-kali berbicara dia akan menghargai opsi rakyat Amerika,” tutur juru bicara Presiden Putin, Dmitry Peskov.

Pimpinan-pemimpin negara lain biasanya telah memberi selamat ke Joe Biden, terhitung Presiden Joko Widodo.

Update:

Erdogan sudah memberi perkataan selamat ke Joe Biden. Dia mengucapkan terima kasih ke Donald Trump atas empat tahun akhir.

Pimpinan Korea Utara Kim Jon-un masih bungkam berkaitan berita kekalahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di pemilu AS 2020. Korut nampaknya masih mengawasi pemilu AS dengan berhati-hati.

Disampaikan Yonhap, Selasa (10/11/2020), beberapa media Korut terlihat masih bungkam sampai Senin 9 November 2020. Tetapi, Korut umumnya benar-benar tidak selamanya cepat memberi respon hasil pemilu AS.

Jalinan Donald Trump serta Kim Jong-un relatif dekat, walau awalannya pernah sama-sama mengejek. Sepanjang memegang, Trump telah 3x berjumpa Kim, yaitu di Singapura, Vietnam, serta tepian Korea Utara.

Presiden Donald Trump ialah presiden pertama kali dalam riwayat AS yang bertandang ke Korea Utara pada 30 Juni 2019.

Yonhap menyebutkan Korea Utara kemungkinan lebih mencintai Donald Trump di masa dua sebab Joe Biden benar-benar gawat pada Korea Utara. Joe Biden pun tidak ketarik dengan diplomasi dengan negara itu.

Tahun kemarin, Korea Utara serta Joe Biden pernah berganti ejekan. Biden menyebutkan Kim Jong-un selaku “preman”, sesaat Korut menyebutkan Biden selaku “orang bodoh dengan IQ rendah.”

Ahli Korea Utara menyebutkan bungkamnya Korea Utara sebab menimbang jalinan pertemanan dengan Donald Trump.

“Utara nampaknya masih bungkam dengan alasan jalinan berteman yang mereka bangun dengan Trump serta kelihatannya menanti penyeleksian Biden supaya diverifikasi, dan mendalami bagaimana sekutunya yaitu China serta Rusia memberi respon hasil ini,” tutur Yang Moo-jin, profesor dari University of North Korean Studies.

Medium China telah mengulas kemenangan Donald Trump, tetapi Rusia pilih menanti hasil sah pemilu 2020.

Yang Moo-jin menambah jika penyeleksian Biden telah diverifikasi, peluang medium Korea Utara akan minta AS untuk hentikan peraturan yang keras pada Korea Utara.

Presiden Trump lagi mendakwa ada manipulasi dalam Pemilihan presiden AS, khususnya lewat metode pengangkutan surat. Dia juga menudur Partai Demokrat jadi dalang dari manipulasi itu.

error: Content is protected !!